LONDON,Nancy Wake, srikandi pada Perang Dunia II meninggal dunia pada usia 98 tahun. Kiprahnya tak bisa dianggap enteng, mulai menjadi perawat, wartawan, pemimpin pasukan hingga mata-mata pernah dilakoninya.
Wake, perempuan kelahiran Wellington, Selandia Baru pada 31 Agustus 1912 itu tutup usia pada usia 98 tahun di suatu rumah sakit Kingston, London, Inggris pada Minggu, 7 Agustus 2011 seperti dilansir AFP, Senin (8/78/2011).
"Nancy Wake adalah perempuan dengan keberanian dan keuletan luar biasa, mengesampingkan keselamatan dirinya sendiri dan mengutamakan kebebasan. Kematiannya meninggalkan dampak yang dalam bagi para veteran, memandang kepergiannya dengan kehilangan yang dalam," jelas Menteri Urusan Veteran Selandia Baru, Judith Collins.
Wake, yang tumbuh di Sydney itu pada usia 16 tahun kabur dari rumah dan bekerja sebagai perawat. Berbekal US$ 327 dari bibinya, saat itu Wake memulai petualangan hidupnya ke New York, kemudian pindah ke London dan melatih dirinya sebagai jurnalis. Pada tahun 1930, Wake kemudian bekerja di Paris, Prancis, kemudian menjadi koresponden Eropa koran Hearst. Wake menjadi saksi kekejaman yang dilakukan Nazi dengan pimpinannya Adolf Hittler, di jalanan kota Paris dan Wina.
Dia bertemu dengan Henri Edmond Fiocca, seorang industrialis kaya asal Prancis dan menikah pada 30 November 1939 dan tinggal di Marseilles, Prancis yang diinvasi Jerman pada 1940-an. Wake kemudian menjadi kurir Pertahanan Prancis, pasukan perlawanan terhadap pendudukan tentara Nazi.
Kiprah ini membuat Gestapo, polisi rahasia Nazi, menyadap telepon dan menyabotase surat-suratnya. Wake menjadi orang yang paling diburu Gestapo, yang diberi julukan The White Mouse alias tikus putih. Kepala Wake dihargai 5 juta France saat itu. Saat jaringan Pertahanan Prancis mengkhianati Wake, dia harus meninggalkan Marseilles, sementara suaminya, Henri Fiocca, tetap tinggal.
Belakangan, Fiocca kemudian ditangkap, disiksa dan dieksekusi Gestapo pada 16 Oktober 1943. Ironisnya, Wake mengetahui hal ini saat PD II berakhir. Wake sempat ditahan di Toulouse selama 4 hari, dibebaskan dan berusaha melarikan diri dari Prancis melalui pegunungan Pyrenees ke Spanyol.
Setelah mencapai Inggris, dia bergabung di Special Operations Executive (SOE), Inggris sebagai mata-mata. Dan pada 29-30 April 1944, dia kembali ke Prancis, dengan terjun payung pada malam hari dan turun di Auvergne. Wake menjadi penghubung antara London dan kelompok gerilya Pertahanan Prancis, Marquis, yang dikepalai Kapten Henri Tardivat.
Wake kemudian mengkoordinasi kegiatan Pertahanan Prancis dan merekrut pasukan untuk Invasi Normandia, yang dilakukan pasukan Sekutu. Wake juga yang memimpin penyerangan pada instalasi Jerman dan perwakilan lokal Gestapo di Montlucon.
Dia memimpin 7.000 orang gerilyawan Prancis melawan 22 ribu pasukan SS Nazi. Peperangan itu menyebabkan 1.400 orang tewas, dan 100 dari jumlah itu adalah korban di pihak Prancis.
Teman seperjuangannya, Henri Tardivat, memuji semangat juangnya. Tardivat mencontohkan, Wake bisa membunuh dengan senjata minimal ketika menghadapi tentara Nazi. Belakangan, saat diwawancara di TV pada pertengahan 1990-an, apa yang dilakukan Wake saat itu, dengan enteng Wake menyilangkan telunjuk ke tenggorokannya.
Karena perjuangannya dalam PD II itu, Wake pun dianugerahi penghargaan tertinggi militer Prancis, Legion d'Honneur, 3 Croix de Guerre dan medali Pertahanan Prancis. Inggris juga memberinya medali George, sementara AS memberinya medali kebebasan.
Wake tinggal di London sejak 2001, tepatnya di panti jompo khusus veteran dan didiagnosa menderita serangan jantung pada 2003. Kesehatannya memburuk akhir-akhir ini dengan infeksi yang terjadi di dadanya, dan masuk rumah sakit pada pekan lalu. Seminggu kemudian, srikandi itu harus menyerah pada pemilik hidupnya pada 7 Agustus 2011.detikcom

Tidak ada komentar:
Posting Komentar