Selasa, 26 Juli 2011

Gatung Diri Karena Tak Direstui Menikah

MAGELANG,Sarip (18), seorang Anak Baru Gede (ABG) warga Dusun Mutihan, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jateng nekat mengakhiri hidupnya dengan
cara menggantung diri. Aksi tragis itu nekat dilakukan Sarip setelah ayahnya Tatang (46) menolak
merestui pernikahannya dengan gadis pujaannya. Gantung diri itu dilakukan Sarip dengan menggunakan seutas kain sarung usai bekerja sebagai
pedagang peralatan rumah tangga di Desa Gulon, Kecamatan Salam, Magelang. Berdasarkan informasi
beberapa tetangga dan teman dekatnya kejadian bermula sekitar pukul 17.00 WIB, Selasa (26/7/2011)
. Seusai bekerja sebagai pedagang keliling peralatan rumah tangga, Sarip pergi ke kamar mandi.
Beberapa teman kerjanya mengira bahwa Sarip sedang mandi di kamar mandi. Namun, selang sekitar
20 menit tiba-tiba terdengar suara jeritan dikamar mandi. “Saat dibuka ternyata Sarip sudah dalam kondisi menggantung dengan sarung yang melilit di
lehernya. Beberapa teman-teman juga sudah cepat berusaha menurunkan tubuh Sarip dan melarikan
ke RSUD Muntilan, Magelang,” tegas Sumiyatun, tetangga Sarip, saat ditemui detikcom usai
pemakaman Sarip di desa setempat. Namun, setelah sampai di rumah sakit dan dokter berusaha menolong, Sarip menghembuskan nafas
untuk terakhir kalinya di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Muntilan, Magelang. Imam, salah seorang teman dekat Sarip saat duduk di SMP Negeri 3 Muntilan menyatakan korban
dikenal sebagai anak yang memiliki kepercayaan diri, pandai bergaul dan banyak teman. “Bahkan saat SMP dulu dia mempunyai banyak teman cewek alias gonta ganti pacar atau playboy.
Namun setelah ditinggal pergi ibunya Bu Isyah, Sarip agak pemurung dan gampang marah,” jelas
Imam yang saat ini duduk di kelas 2 bangku SMU Ma’arif Gunungpring, Muntilan. Imam tidak menduga dan sangat kaget jika Sarip temanya nekat gantung diri dengan sutas kain
sarung karena minta nikah tidak direstui oleh ayahnya. Kepala Dusun Mutihan Azis saat ditemui detikcom menjelaskan selain kondisi rumah tangga yang
kacau, Sarip mengalami depresi karena tidak dapat melanjutkan sekolah. “Hal itu terjadi karena terbentur biaya sebab ayahnya Tatang dalam kondisi sakit-sakitan tidak bias
bekerja dan mencari nafkah. Iyah sendiri ibunya Sarip awalnya bekerja ke Malaysia untuk menjadi
TKI. Namun, karena tidak betah dan bertemu laki-laki lain pindah ke Kalimantan dan punya anak
bersama laki-laki itu,” jelas Azis. Selain korban Sarip, Tatang kini hidup bersama dua anaknya yang merupakan adik Sarip yang masih
kecil. Begitu tiba dirumah duka usai diotopsi di rumah sakit, jenasah Sarip langsung di makamkan di
Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat.detikcom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar