JAKARTA,Komisi Yudisial (KY) terus melakukan wawancara terbuka dengan 43 Calon Hakim Agung (CHA) hingga pekan depan.
Berbagai pertanyaan dilontarkan kepada para CHA untuk menguji
integritas mereka dalam bertindak. Dari perilaku kerja, harta
kekayaan hingga hubungan dengan pasangan mereka. Menanggapi seleksi ini, Profesor Emiritus Universitas Airlangga
(Unair), Surabaya JE Sahetapy memberikan catatan. "Calon Hakim
Agung itu jangan pernah nyontek. Karena mencontek itu bibit-biit korupsi," kata JE Sahetapy saat berbincang dengan detikcom, Jumat, (22/7/2011). Sahetapy mengkhawatirkan, kebiasaan mencontek ini berkembang menjadi kebiasaan buruk di dunia
pekerjaan. Yaitu menjadi kebiasaan korupsi. Selain itu penelusuran kebiasaan buruk lainnya ini harus
terungkap secara detail oleh KY. Untuk mengetahui secara detail, KY harus mengumpulkan informasi
dari para dosen atau guru para CHA. "Harus di tanya itu, siapa dosennya. Siapa gurunya. Dari situ ketahuan, apakah dia suka mencontek
atau tidak," terang Sahetapy. Adapun terkait harta kekayaan, Sahetapy tidak memberikan rambu-rambu batasan harta kekayaan
CHA. Menurutnya, kaya dan kehidupan sederhana bukan jaminan seorang hakim untuk tidak korupsi. "Kaya tidak jaminan menjadi tidak korupsi. Demikian juga yang hidup sederhana. Yang penting,
harus bisa dipertanggungjawabkan dari mana asal harta kekayaan tersebut," tegas Sahetapy. Seleksi wawancara CHA rencananya akan menyeleksi 45 calon. Namun 2 calon hakim agung Elang
Prakoso Wibowo dan Elisabeth Sundari mundur karena gangguan kesehatan dan masalah pribadi. "Dua calon hakim agung yang mengundurkan diri karena masalah kesehatan dan urusan pribadi
yaitu, Elang Prakoso Wibowo, dan Elisabeth Sundari," ujar Juru Bicara KY, Asep Rahmat Fajar.detikcom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar