*Seorang Tewas di Mobil Densus JAKARTA,Dua tersangka teroris yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri di
Pekalongan, Hari Kuncoro dan Sugeng Setiaji diduga terlibat kasus bom Bali I tahun 2002.
Dari lima lokasi penangkapan di Pekalongan, Jakarta, Poso, Bandung dan Kalimatan Timur, Densus
berhasil menangkap 18 terduga teroris, tiga di antaranya tewas. Dua tewas dalam baku tembak
dan satu terduga teroris yang ditangkap di Bandung tewas di mobil Densus 88 saat dibawa ke
kantor polisi. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengungkapkan, Hari Kuncoro dan Sugeng
Setiaji merupakan buron kasus bom Bali I. Keduanya diduga ikut merencanakan aksi bom tersebut
bersama-sama dengan Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, Dr Azhari dan Noordin M Top.
“Keduanya membantu memfasilitasi persiapan bom Bali I, yaitu mengantar Dulamtin untuk membeli perlengkapan elektronik dalam perencanaan bom Bali I,” ujar Anton saat jumpa pers di Mabes Polri, Selasa (14/6).
Anton mengatakan, dari keduanya polisi menyita barang bukti berupa satu senjata api pistol
kaliober 45 tipe 1911 dengan nomor seri 07041320, empat magazen dan 33 butir peluru kaliber 45.
Menurutnya, keduanya pada 2003 bersama Dulmatin, dan Maulana berangkat ke Tawaw, Malaysia
bertemu dengan Umar Patek untuk mengikuti pelatihan di Philipina.
Dikatakan, keduanya terlibat dalam pelatihan militer (tadrib asykari) di Pulau Buru, Filipina yang mendapatkan berbagai macam pelatihan militer di antaranya penggunaan revolver, peledakan TNT,
map reading dan beladiri.
“Keduanya mendapatkan berbagai macam pelatihan militer di antaranya, fairing device, explosive, dan perbaikan pistol. ” Serangan Jantung
Terkait tewasnya satu terduga teroris, Budi Untung Wasesa, lanjut Anton, telah dilakukan otopsi
oleh tim dari Rumah Sakit (RS) Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Budi ditangkap di rumahnya di Desa Sukarame, Sorean, Bandung, Jawa Barat. Kepala Pusat
Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokes) Polri, Brigjen Musadeq menyatakan, Budi tewas akibat
serangan jantung. Musadeq menjelaskan, Budi mengalami serangan jantung di dalam mobil Densus saat dalam
perjalanan menuju kantor polisi. Kemudian penyidik membawa ke Rumah Sakit Bhayangkara
Bandung. “Sempat dilakukan upaya penyelamatan namun tidak tertolong, ” katanya. Dikatakan, selanjutnya penyidik membawa jenazah Budi ke RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta
Timur untuk diotopsi. Menurutnya, dari hasil otopsi pihak RS Polri diketahui adanya penyempitan
pada pembuluh darah jantung koroner.
Dia menyatakan, dalam jenazah Budi tidak ditemukan luka lebam atau luka tembak yang
menyebabkannya tewas. Menurutnya, hasil otopsi itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
dan secara hukum. Sebab, telah memenuhi standar internasional. Anton mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan terhadap enam terduga teroris yang ditangkap di
Jakarta Jumat (10/6), diketahui mereka telah merencanakan penyerangan terhadap polisi.
Penyerangan itu dengan cara memberikan racun di kantin Mabes Polri, kantin Polda Jawa Tengah
dan kantin Jawa Timur. Kelompok ini dipimpin oleh Santhanam alias Santa dan dibawah kendali
tersangka Ardan Wirayuda alias Ali Ibrahim alias Miftah yang ditangkap di Poso.
Menurutnya, dari kelompok Jakarta itu Densus menyita barang bukti berupa 29 keping DVD tentang jihad, 9 jenis pipa besi pelontar peluru (pen gun), dua botol 500 ml berisi cairan warna
kuning dan empat butir peluru kaliber 9 mm.
Anton menjelaskan, dalam rangkaian penangkapan setelah kasus penyerangan terhadap anggota
Polri yang sedang melakukan pengamanan Bank Central Asia (BCA), Densus menangkap dua
terduga teroris, M Sibhotulloh alias Faisal alias Mus’af dan Yuwardi di Kalimantan Timur, Sabtu (11/6). Keduanya diduga terlibat pelatihan militer di Aceh dan menyembunyikan Dulmatin dan
Umar Patek.
Dikatakan, keduanya berperan menyuplai senjata dari Philipina dan merencanakan penyerangan
anggota Polri di Poso.suara merdeka.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar