Rabu, 06 Juli 2011

Budiono:Sejarah Bukan Penentu Tanggal Cuti Bersama

JAKARTA,Wakil Presiden Boediono meminta segenap bangsa Indonesia untuk menghargai sejarah sebagai cara untuk
menyerap nilai-nilai perjuangan dan kerelaan untuk berkorban para
founding father. Sejarah bukanlah sekadar hafalan-hafalan atau
penentu tanggal untuk peringatan peristiwa penting. "Sejarah bukanlah sekadar hafalan dan bukan pula sekadar penentu
tanggal untuk memperingati sesuatu peristiwa yang dianggap
penting, atau untuk menentukan kapan kita cuti bersama. Sejarah
adalah sumber yang memberikan pedoman dan perspektif bagi kita
untuk melangkah ke depan," kata Boediono. Hal itu disampaikan Boediono saat membuka Konferensi Sejarah Nasional IX dan Kongres Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) VIII di Hotel Bidakara, Jl Gatot
Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (5/7/2011). Menurut Boediono, memperlajari sejarah dengan hati dan pikiran terbuka tidak sekadar bermanfaat
untuk mengetahui apa peristiwa yang pernah terjadi di suatu waktu dan di suatu tempat, tetapi juga
memahami sesuatu yang biasa disebut sebagai kearifan sejarah. Bangsa Indonesia akan dapat
menghadirkan kembali pemikiran kebangsaan Indonesia dengan melihat secara jernih kekinian dan
masa depan. "Benarlah, sejarah memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian benar pulalah bahwa para sejarawan memiliki peran penting dan strategis dalam
gerak kehidupan dan pembangunan nasional kita," ucap mantan Gubernur BI ini. Boediono menjelaskan, sejarah membuat bangsa ini paham akan identitasnya, apa saja kekuatan dan
kelemahan, serta apa yang harus dihindari dan dilaksanakan dengan segala kesungguhan hati. Ia pun
lantas mengutip pendapat seorang filsuf untuk mendukung pendapat tersebut. "Coba dengarkan apa kata filsuf George Santayana. Ia mengatakan 'A country without a memory (of
its history) is a country of a madmen'. Bangsa yang nubruk sana, nubruk sini. Bangsa yang selalu
mengulang kesalahan yang sama. Bangsa yang tidak mempunyai kearifan," ucap Boediono. Ia menandaskan, penggalian nilai-nilai kesejarahan bangsa harus dilakukan. Rasa kebangsaan dapat
diperkuat dengan merajut kembali pusat-pusat pemikiran ke-Indonesia-an. Misalnya dengan
revitalisasi tempat-tempat pengasingan tokoh-tokoh pejuang bangsa, seperti Ende, Banda Neira, Digul
dan lain-lain, dan bahkan terhadap pusat-pusat peradaban masa lalu seperti kawasan Majapahit dan
Sriwijaya. "Sejarah mutlak diajarkan kepada generasi muda. Tapi kita harus menyadari bahwa pelajaran sejarah
tidak boleh diberikan secara dogmatis dengan gaya menggurui atau hanya dengan memupuk
nostalgia tentang kejayaan masa lampau. Sejarah perlu diajarkan dengan melibatkan siswa secara
partisipatif," tutupnya.detikcom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar