Kamis, 30 Juni 2011

Wacana Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Asean

Wacana agar mendorong Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN kembali mengemuka dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara
itu tahun ini. Melalui sejumlah wawancara terpisah di beberapa tempat, Jumat, ANTARA menanyakan tentang
harapan masyarakat dalam momentum keketuaan ASEAN Indonesia tahun ini, terutama tentang
perwujudan semboyan "satu visi, satu identitas dan satu komunitas". "Indonesia kan sedang menjadi Ketua ASEAN tahun ini, makanya harus bisa memanfaatkan
momentum tersebut untuk mengusung Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN," kata seorang
pensiunan pegawai negeri sipil, Mahmud Rustam (62), ketika diwawancarai oleh ANTARA, Jumat. Mahmud mengakui akan adanya kendala dalam menerapkan Bahasa Indonesia sebagai identitas
ASEAN itu, karena perbedaan latar belakang sosial dan budaya masyarakat ASEAN, namun hal itu
tetap harus diupayakan untuk mewujudkan hubungan antarmasyarakat ASEAN setelah terbentuknya
Komunitas ASEAN 2015. Mahmud yang mengaku belum pernah mendengar konsep Komunitas ASEAN 2015 itu berharap
kelompok regional Asia Tenggara itu akan lebih mengutamakan kerja sama ekonomi daripada dua
pilar lainnya, sosial budaya serta politik, pertahanan dan keamanan. "Saat ini yang terpenting adalah menyejahterakan rakyat melalui ekonomi yang kuat, keamanan dan
sosial itu bisa menyusul," kata Mahmud. Senada dengan harapan itu, seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di Jakarta, Yuwono Ario (24),
mengatakan Bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai bahasa ASEAN karena digunakan oleh lebih
dari sepertiga penduduk ASEAN. "Kalau dilihat dari jumlah populasinya, Indonesia kan populasinya lebih dari sepertiga total populasi
negara-negara ASEAN," kata Yuwono ketika dijumpai usai bekerja, Jumat. Yuwono menyarankan ASEAN harus menggeser peran ke arah ekonomi, sehingga mampu menghadapi
geliat raksasa ekonomi China yang melakukan penetrasi secara besar-besaran, terutama ke wilayah
Asia Tenggara. "Sebaiknya peran ASEAN bergeser ke arah ekonomi, bersatu untuk menghadapi gempuran dari China
dan melakukan pemerataan kesejahteraan terhadap seluruh negara anggotanya," kata Yuwono. Seorang karyawati perusahaan swasta di Jakarta, Dinda Saraswati (29), juga setuju jika Bahasa
Indonesia menjadi bahasa ASEAN, karena akan menambah kebanggaan tersendiri bagi rakyat
Indonesia. "Mungkin dengan Bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN, warga negaranya bisa lebih menghargai
Bahasa Indonesia, dan kita jadi bangga menggunakan bahasa yang dipakai di seluruh ASEAN,"
katanya. Dinda juga mengemukakan pendapatnya tentang perlunya menciptakan satu mata uang bersama bagi
negara ASEAN, sehingga setiap negara memiliki standar yang sama. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Marzuki Alie, sempat mengusulkan agar Bahasa Indonesia dijadikan
salah satu bahasa resmi yang digunakan dalam pertemuan-pertemuan negara ASEAN dalam sesi pleno
pertama Sidang Umum ke-31 ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) di Hanoi, Vietnam, 21
September 2010. "Penggunaan Bahasa Indonesia akan membuka kesempatan kepada bahasa lain untuk menjadi bahasa
kerja dalam AIPA," kata Marzuki pada saat itu. Usul mengenai penggunaan Bahasa Indonesia dalam sidang-sidang AIPA telah mengemuka sejak awal
kedatangan Delegasi DPR RI ke Hanoi, Vietnam. Pada 20 September lalu, dalam pertemuan Komite Eksekutif AIPA, Indonesia telah menyampaikan
usulannya untuk mengamandemen statuta AIPA agar Bahasa Indonesia masuk dalam bahasa kerja
AIPA selain Bahasa Inggris. Namun, seorang mahasiswa S2 salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, Arisman Muhammad
(24), cenderung melihat tidak adanya sebuah identitas yang dapat menunjang integritas, termasuk
satu bahasa tunggal, karena budaya negara anggota ASEAN memiliki karaktistik yang unik. "Secara ekonomi, Malaysia dan Singapura jauh lebih unggul, serta dari segi pandangan politik, ada
negara yang memiliki perbedaan dengan yang lainnya, sehingga identitas tunggal akan sulit tercapai,"
katanya. Pada sejarahnya, Indonesia sendiri menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional guna
mempersatukan beraneka bahasa yang berasal dari beragam suku bangsa di seluruh tanah air. Menurut seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia, Andri Hadi, saat ini ada 45 negara yang
mengajarkan Bahasa Indonesia, di antaranya Australia, Amerika, Kanada, dan Vietnam. Mengambil contoh Australia, pejabat itu menjelaskan, bahkan di Australia Bahasa Indonesia menjadi
bahasa populer keempat. "Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan Bahasa Indonesia, sehingga anak-anak kelas enam Sekolah
Dasar sudah ada yang bisa berbahasa Indonesia," kata Andri beberapa waktu lalu. Sementara di Vietnam, Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, telah mengumumkan Bahasa Indonesia
menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia. "Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang
diprioritaskan," kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad
beberapa waktu setelah peresmian itu. Vietnam sendiri merupakan anggota ASEAN pertama yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa resmi kedua di negaranya. Momentum Indonesia sebagai Ketua ASEAN terbukti menyimpan harapan sebagian masyarakat agar
dapat mendorong penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN. Layakkah Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar