Pernyataan Dubes Arab Saudi Abdulrahman Mohamed Amen Al-Khayyat yang membantah pernyataan Menlu Marty Natalegawa soal permintaan maaf terkait kasus Ruyati
mengundang polemik. Siapa yang berbohong sebenarnya terkait pernyataan maaf ini. Menlu Marty
diminta jujur. "Informasi terbaru katanya tidak ada minta maaf. Nah ini artinya Marty melakukan kebohongan
publik, kalau tidak punya malu terus saja jadi Menlu. Jadi Menlu harus klarifikasi siapa yang benar,"
kata Wakil Ketua Komisi I TB Hasanudin saat dikonfirmasi, separti yang dilansir dtik.com Jumat (24/6/2011). Politisi PDIP ini bertutur, kemarin (Kamis 23 Juni) dia bertemu dengan Marty di Kantor Presiden. Saat
itu Marty menghampiri dia dan menyampaikan bahwa Dubes Saudi minta maaf karena tidak
memberikan informasi. Nah, karena pada Rabu (22/6) Komisi I sempat mencak-mencak ke Menlu terkait ketidaktahuan soal
kasus hukuman pancung Ruyati, sontak Hasanudin mendengar Marty menjelaskan bahwa Dubes
Saudi yang minta maaf artinya kesalahan ada pada negara Saudi. "Saya langsung minta maaf karena kemarin marah-marah saat rapat kerja," imbuhnya. Namun dengan keterangan bantahan dari pihak Dubes Saudi, dia meminta agar Marty sesegera
mungkin melakukan klarifikasi. "Jangan main-main dengan hubungan antarnegara. Ada sekian ratus
negara asing kedutaan di sini," tuturnya. Pada Senin (20/6), Dubes Saudi dipanggil ke Kemlu untuk menerima nota protes pemerintah Indonesia
yang tidak mendapatkan informasi tentang waktu pelaksanaan hukum pancung pada Ruyati. Pada
Rabu (22/6), Dubes Saudi dipanggil lagi guna menerima surat Marty untuk koleganya, Menlu Saudi.
Pada malam harinya, Marty menuturkan Dubes Saudi mengaku lalai dan meminta maaf. Namun
kemudian dalam siaran pers hari Kamis kemarin, Dubes Saudi membantah meminta maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar